SALAM PENDIDIKAN

Terima kasih saya ucapkan pada rekan-rekan saya yang telah mngunjungi, mengakses, dan menggunakan Blog saya. Blog ini saya buat dalam rangka menuangkan ide-ide atau pikiran saya, sehingga tidak menumpuk di otak dan sedikit banyak telah menuntun saya untuk mau menulis di dalam Blog.

Senin, 17 Maret 2014

MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK DENGAN PENDIDIKAN MATEMATIKA




MEMBANGUN  KARAKTER  PESERTA  DIDIK
DENGAN  PENDIDIKAN  MATEMATIKA

       A.    Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu hal penting bagi kehidupan manusia karena ilmu merupakan bekal yang paling utama dalam menjalani hidup. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, dunia pendidikan pun dituntut untuk adaptif terhadap kemajuan dan perkembangan zaman. Pendidikan karakter menjadi tanggung jawab bersama segenap komponen bangsa dalam upaya membentuk watak dan  identitas bangsa Indonesia. Kurikulum pendidikan di Indonesia pun diarahkan untuk pembinaan karakter bangsa melalui aplikasi dalam pembelajaran sebagai tindak lanjut dari semangat pendidik modern Indonesia tempo dulu, seperti Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, 1889 – 1959) http://afidburhanuddin.wordpress.com/ 2013/ 11/ 08/ pengertian-pendidikan/ merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut : “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”.
Proses pembelajaran ditandai dengan aktivitas dan interaksi antara guru dengan peserta didik, serta antar peserta didik. Melalui pembelajaran matematika sesuai tujuannya, diharapkan mampu menjadi salah satu wahana untuk membangun dan mengembangkan implementasi dari pendidikan karakter. Upaya pembinaan karakter peserta didik menjadi peran strategis guru, di samping pengembangan kurikulum. Guru perlu memenuhi kualifikasi untuk menjadi guru yang profesional, misalnya mempunyai kompetensi yang mendukung sesuai tugas dan tangung jawabnya. Guru perlu membekali diri dengan kompetensi kognitif, pedagogis, sosial, dan kepribadian.



       B.     Kajian Filsafat
Dari para filosof mempunyai penafsiran tentang definisi dari pendidikan (http://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/08/pengertian-pendidikan/) adalah sebagai berikut :
  • Plato (filosof Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 M) mengatakan bahwa pendidikan itu ialah membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesemurnaan.
  • Aristoteles (filosof terbesar Yunani, guru Iskandar Makedoni, yang dilahirkan pada tahun 384 SM-322 SM) mengatakan bahwa pendidikan itu ialah menyiapkan akal untuk pengajaran.
  •  Ibnu Muqaffa (salah seorang tokoh bangsa Arab yang hidup tahun 106 H- 143 H, pengarang Kitab Kalilah dan Daminah) mengatakan bahwa pendidikan itu ialah yang kita butuhkan untuk mendapatkan sesuatu yang akan menguatkan semua indera kita seperti makanan dan minuman, dengan yang lebih kita butuhkan untuk mencapai peradaban yang tinggi yang merupakan santaan akal dan rohani.
  • Rousseau (filosof Prancis, 1712-1778 M) mengatakan bahwa pendidikan ialah pembekalan diri kita dengan sesuatu yang belum ada pada kita sewaktu masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya di waktu dewasa.
  • James Mill (filosof Inggris, 1773-1836) mengatakan bahwa pendidikan itu harus menjadikan seseorang cakap, agar dia menjadi orang yang senantiasa berusaha mencapai kebahagiaan untuk dirinya terutama dan untuk orang lain selainnya.
  • John Dewey (filosof Chicago, 1859 M – 1952 M) mengatakan bahwa pendidikan adalah membentuk manusia baru melalui perantaraan karakter dan fitrah, serta dengan mencontoh peninggalan – peninggalan budaya lama masyarakat manusia.
  • Jean-Jacques Rousseau (filosof swiss 1712-1778) menurutnya pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, tetapi kita membutuhkannya di waktu dewasa.
  • Langeveld adalah seorang ahli pendidikan bangsa Belanda Ahli ini merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.
  • Sedangkan Darnelawati (1994) berpendapat bahwa pendidikan formal adalah pendidikan di sekolah yang berlangsung secara teratur dan bertingkat mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat. Tujuan pendidik adalah untuk memperkaya budi pekerti, pengetahuan dan untuk menyiapkan seseorang agar mampu dan trampil dalam suatu bidang pekerjaan tertentu.
  • Pendidikan menurut Al-Ghazali (http://pers-stai-tasikmalaya.blogspot.com/ 2012/10/pendidikan-menurut-imam-gozali.html) yaitu proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna”
Selain mengerti tentang definisi pendidikan, kita perlu tahu juga pengertian karakter. Ada beberapa pendapat dari para tokoh dan filosof mengenai definisi karakter  sebagai berikut :
1.      Koesoema A, karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian adalah ciri atau karakteristik, gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan;
2.      Suyanto, karakter adalah cara berfikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara;[1][2]
3.    Scerenko, karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, etis, kompleksitas mental seseorang dengan orang lain;
4. Helen G. Douglas, karakter tidak diwariskan, tetapi sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan hari demi hari melalui pikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, perbuatan demi perbuatan.[2][3]
5.    Al-Farabi seorang filsuf Islam (http://rahmadashariuinsuska.blogspot.com /2013/07/pendidikan-karakter-menurut-para-filosof.html), akhlak adalah upaya menumbuh-kembangan akhlak potensial baik yang ada di dalam diri setia manusia dengan jalan membiasakan lahirnya perilaku-perilaku terpuji dan membangun situasi kondisi yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya perilaku yan terpuji di dalam diri seseorang.

      C.    Tujuan pendidikan
Menurut al-Ghazali (http://pers-stai-tasikmalaya.blogspot.com/2012/10/ pendidikan-menurut-imam-gozali.html), pendidikan dalam prosesnya haruslah mengarah kepada pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani, mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sehingga tujuan pendidikan dirumuskan sebagai pendekatan diri kepada Allah, yaitu untuk membentuk manusia yang shalih, yang mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan kewajiban-kewajibannya kepada manusia sebagai hambaNya.
Tujuan pendidikan jangka panjang yang dirumuskan sebagai pendekatan diri kepada Allah, dapat dicapai dengan melaksanakan ibadah wajib dan sunnah serta mengkaji ilmu-ilmu fardhu ‘ain seperti ilmu syariah. Sementara, orang-orang yang hanya menekuni ilmu fardhu kifayat sehingga memperoleh profesi-profesi tertentu dan akhirnya mampu melaksanakan tugas-tugas keduniaan dengan hasil yang optimal sekalipun, tetapi tidak disertai dengan hidayah al-din, maka orang tersebut tidak akan semakin dekat dengan Allah.
Tujuan pendidikan jangka pendek menurut al-Ghazali adalah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya dengan mengembangkan ilmu pengetahuan yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayat. Masalah kemuliaan duniawi bukanlah tujuan dasar dari seseorang yang melibatkan diri dalam dunia pendidikan. Seorang penuntut ilmu seperti siswa, mahasiswa, guru, atau dosen, akan memperoleh derajat, pangkat, dan segala macam kemuliaan lain yang berupa pujian, kepopularitasan, dan sanjungan manakala ia benar-benar mempunyai motivasi hendak meningkatkan kualitas dirinya melalui ilmu pengetahuan untuk diamalkan. Sebab itulah, al-Ghazali menegaskan bahwa langkah awal seseorang dalam proses pembelajaran adalah untuk menyucikan jiwa dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela, dan motivasi pertama adalah untuk menghidupkan syariat dan misi Rasulullah.
      
      D.    Nilai Karakter
Dari pengalaman ada dua pendekatan dalam pendidikan karakter (http://pers-stai-tasikmalaya.blogspot.com/2012/ 10/ pendidikan - menurut - imam - gozali. html), yaitu: (1) Karakter yang diposisikan sebagai mata pelajaran tersendiri; dan (2) Karakter yang built- in dalam setiap mata pelajaran. Sampai saat ini, pendekatan pertama ternyata lebih efektif dibandingkan pendekatan kedua. Salah satu alasannya ialah karena para guru mengajarkan masih seputar teori dan konsep, belum sampai ke ranah metodologi dan aplikasinya dalam kehidupan. Idealnya, dalam setiap proses pembelajaran mencakup aspek konsep (hakekat), teori (syare’at), metode (tharekat) dan aplikasi (ma’rifat). Jika para guru sudah mengajarkan kurikulum secara komprehensif melalui konsep, teori, metodologi dan aplikasi setiap bidang studi, maka kebermaknaan yang diajarkannya akan lebih efektif dalam menunjang pendidikan karakter.
Nilai-nilai karakter antara lain (http://pers-stai-tasikmalaya.blogspot.com/ 2012/10/pendidikan-menurut-imam-gozali.html): (1) Cinta kepada Allah dan alam semesta beserta isinya; (2) tanggung jawab, disiplin dan mandiri; (3) jujur; (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang, peduli, dan kerja sama; (6) percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah; (7) keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan toleransi, cinta damai, dan persatuan. Untuk implementasinya memerlukan kajian dan aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam karakter bangsa pada kegiatan pembelajaran di sekolah.  Integrasi nilai karakter bangsa pada kegiatan pembelajaran dapat dilakukan melalui tahap-tahap perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

      E.     Indikator Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter bangsa bisa dilakukan dengan pembiasaan nilai moral luhur kepada siswa dan membiasakan mereka dengan kebiasaan yang sesuai dengan karakter kebangsaan. Berikut 18 indikator pendidikan karakter bangsa ( pusat kurikulum departemen pendidikan Nasional: 2010 ) dalam http://rumahinspirasi.com/ 18-nilai-dalam-pendidikan-karakter-bangsa/  sebagai bahan untuk menerapkan pendidikan karakter pada siswa:
1.      Religius, adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2.      Jujur, adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai
orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3.      Toleransi, adalah sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku,
etnis,pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya
4.      Disiplin, adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5.    Kerja Keras, adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. 
6.     Kreatif, adalah berpikir dan melakukan sesuatu untuk  menghasilkan cara atau hasil baru dari  sesuatu yang telah dimiliki.
7.  Mandiri, adalah sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8.     Demokratis, adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9.  Rasa ingin tahu, adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.
10.  Semangat kebangsaan, adalah cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
11.  Cinta tanah air, adalah cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12.  Menghargai prestasi, adalah sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,  mengakui, dan menghormati keberhasilan orang lain.
13.  Bersahabat/komuniktif, adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14.  Cinta damai, adalah sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya 
15.  Gemar membaca, adalah kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16.  Peduli lingkungan, adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17.  Peduli sosial, adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 
18. Tanggung jawab, adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

       F.     Prinsip Pendidikan Karakter
Selain adanya indicator yang merupakan kata kunci dalam menemukan tujuan pendidikan karakter, tentunya ada prinsip-prinsip yang harus dikembangkan guna tercapainya karakter yang diharapkan. Prinsip-prinsip pendidikan karakter dalam http:// kita - bermimpi. blogspot. com/ 2012/ 12/ contoh – makalah - pendidikan-karakter.html diantaranya:
1.      Komunitas sekolah mengembangkan dan meningkatkan nilai-nilai inti etika dan kinerja sebagai landasan karakter yang baik.
2.   Sekolah menyediakan kesempatan yang luas bagi para siswanya untuk melakukan berbagai tindakan moral.
3.      Sekolah menggunakan pendekatan yang komprehensif, intensif dalam  pengembangan karakter.
4.      Sekolah menciptakan sebuah komunitas yang memiliki kepedulian tinggi.
5.    Sekolah menyediakan kurikulum akademik yang bermakna dan menantang, dapat menghargai dan menghormati seluruh  peserta didik, mengembangkan karakter mereka, dan berusaha membantu mereka untuk meraih berbagai kesuksesan.
6.      Sekolah mendorong siswa untuk memiliki motivasi diri  yang kuat.
7.    Sekolah mendorong kepemimpinan bersama yang memberikan dukungan penuh terhadap gagasan  pendidikan karakter dalam jangka panjang.
8.      Sekolah melibatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter
9.      Secara teratur, sekolah melakukan asesmen  terhadap budaya dan iklim sekolah, keberfungsian para staf sebagai pendidik karakter di sekolah, dan sejauh mana siswa  dapat mewujudkan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari

      G.    Membangun Karakter dengan Pendidikan Matematika
Dalam lingkup satuan pendidikan pengembangan karakter dilakukan dengan menggunakan (1) pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran, (2) pengembangan budaya satuan pendidikan, (3) pelaksanaan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, serta (4) pembiasaan prilaku dalam kehidupan di lingkungan satuan pendidikan (http://edukasi.kompasiana.com/2013/02/04/pendidikan-karakter-dalam-pembelajaran-matematika-525565.html) . Hal ini berarti, pedidikan karakter bukanlah suatu mata pelajaran khusus, tetapi pelaksanaannya dituangkan dalam setiap kegiatan di setiap mata pelajaran yang ada. Keberhasilan program ini tentunya tidak lepas dari adanya keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. Pendidik meliputi para pemimpin bangsa, pemuka masyarakat, pemuka agama, dan orang tua. Sedangkan tenaga pendidik meliputi guru, dan penyelenggara pendidikan di sekolah.para pendidik.
Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai ada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan dan dikaitkan (dieksplisitkan) dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dalam http://muhamad-saiful-fst12.web.unair.ac.id/artikel_detail - 71494 - Education – pentingnya % 20 Pendidikan % 20 Karakter. html dikatakan bahwa beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.
Matematika yang selama ini hanya dimaknai sebagai mata pelajaran biasa di sekolah, sebenarnya bisa jadi sarana membangun karakter siswa.
Apabila seseorang mempunyai karakter yang baik terkait dengan Tuhan yang Maha Esa dan sesamanya, seluruh kehidupannya pun akan menjadi baik. Namun sayang sekali karakter yang semacam ini tidak selalu terbangun dalam diri orang–orang yang beragama. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya kesadaran dalam keberagamaan. Oleh karena itu anak didik harus dikembangkan karakternya agar benar–benar berkeyakinan, bersikap, berkata – kata, dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
Manusia itu selalu mengalami penurunan atau kemunduran dalam kepibadiannya. Oleh sebab itu semua nilai-nilai yang terkadung patut ditumbuh kembangkan bagi setiap individu. Untuk itulah diharapkan pembelajaran matematika tidak hanya cukup mementingkan rasio, dimana siswa hanya sebagai pemakai ilmu saja, namun juga pada pengembangan karakternya.
Pembelajaran matematika memfasilitasi proses belajar siswa untuk mnguasai berbagai kompetensi matematis. Di balik itu, siswa bukan saja dapat menguasai berbagai kompetensi matematis namun juga dapat mengembangkan dan mewujudkan nilai dan karakter bangsa. Hal ini memberi pengertian bahwa pembelajaran matematika dapat turut membangun karakter bangsa.
Karakter utama dalam pembelajaran matematika meliputi berpikir logis, kritis, kerja keras, keingintahuan, kemandirian, percaya diri, dan tanggung jawab.  Salah satu tujuan pembelajaran matematika menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 (Depdiknas, 2006) tentang Standar Isi Mata Pelajaran Matematika dalam http://fadjarp3g.files.wordpress.com/2008/12/08-afektif_limas_1.pdf adalah, memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Tujuan tersebut merupakan tujuan pendidikan karakter yang akan mengantar peserta didik menjadi manusia cerdas dan berkarakter. Karakter-karakter tersebut dapat dikembangkan melalui implementasi berbagai model pembelajaran.
Implementasi model pembelajaran matematika dapat memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan karakter seperti yang telah disebutkan di atas, diantaranya adalah: Model Pemecahan Masalah, Model Penemuan, Model Kooperatif, dan Model Pembelajaran Kontekstual dan Realistik.

Menurut George Polya dalam http://berly-bastian.blogspot.com/2011/12/4-langkah- penyelesaian- problem - solving. html, ada 4 langkah dalam model pembelajaran pemecahan masalah yaitu understanding the problem, making a plan, carrying out the plan, looking back. Khususnya dalam model pembelajaran pemecahan masalah matematika, pada langkah memahami masalah, peserta didik harus dapat menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Selanjutnya membuat rencana atau merancang model matematika, pada langkah ini siswa harus dapat mengaitkan masalah yang ada menjadi masalah matematika. Pada tahap ini peserta didik berlatih mengaitkan masalah yang ada dengan konsep atau pengetahuan matematika. Langkah berikutnya adalah menyelesaikan masalah berdasarkan model yang telah direncanakan. Langkah terakhir adalah menafsrkan solusi atau memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh. Dari langkah-langkah pembelajaran ini, dapat kita harapkan peserta didik dapat mengembangkan sikap kritis, taat pada aturan atau disiplin, ulet, percaya diri.
Menurut Jerome S. Bruner dalam http://arifwidiyatmoko.wordpress.com/ 2008/07/29/%E2%80%9Djerome-bruner-belajar-penemuan%E2%80%9D/ menyatakan bahwa belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan dapat bertahan lama, dan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan berfikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah. Dari proses pembelajaran tersebut peserta didik dapat mengembangkan sikap mandiri, percaya diri, tidak mudah menyerah atau ulet, kerja keras dan bertanggungjawab.
Dalam http://www.tugasku4u.com/2013/05/makalah–model-pembelajaran-kooperatif.html model pembelajaran kooperatif  merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dengan pembelajaran kooperatif atau pembelajaran dengan model kooperatif memfasilitasi peserta didik untuk dapat mengembangkan sikap toleransi, demokratis, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, peduli sosial dan tanggung jawab.
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dalam http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/pengertian-pembelajaran-kontekstual-ctl.html merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel da-pat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. Hasil yang dapat dihasilkan dari pembelajaran kontekstual yakni membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan sikap toleransi, demokratis, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, peduli sosial dan tanggung jawab.

       H.    Kesimpulan
Pendidikan karakter merupakan tugas dan tanggung jawab semua pihak. Lembaga pendidikan formal mempunyai kewajiban membentuk karakter peserta didik melalui pengintegrasian pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran. Implementasi berbagai model pembelajaran dalam pembelajaran matematika dapat memfasilitasi pembentukan karakter peserta didik

     Daftar Pustaka
Burhanuddin, Afid. 2013. http:// afidburhanuddin. wordpress.com/ 2013 / 11/ 08/ pengertian-pendidikan/. Diakses tanggal 12 maret 2014 
Anonim. 2012. http:// pers - stai - tasikmalaya. blogspot. com/ 2012/ 10/ pendidikan-menurut- imam-gozali.html diakses tanggal 12 Maret 2014
Ashari, Rahmad. 2013. http:// rahmadashariuinsuska. blogspot. com / 2013 / 07 / pendidikan-karakter-menurut-para-filosof.html diakses tanggal 13 Maret 2014
Shadiq, Fadjar. 2008. http:// fadjarp3g. files. wordpress.com/ 2008/ 12/ 08 - afektif_ limas_1.pdf diakses tanggal 15 Maret 2014
Widiyatmoko, Arif. 2008. http://arifwidiyatmoko. wordpress. com/ 2008/ 07/ 29/ %E 2%80%9Djerome-bruner-belajar-penemuan%E2%80%9D/ diakses tanggal 15 Maret 2014
Anonim. 2011. http:// www.m-edukasi . web.id/ 2011/ 12/ pengertian - pembelajaran-kontekstual-ctl.html diakses tanggal 15 Maret 2014




Minggu, 02 Februari 2014

PERJALANAN FILSAFAT ILMU



PERJALANAN FILSAFAT  ILMU
Oleh : Parjo
PPs Pendidikan Matematika P2TK 2013/ 13709259001 

A.       Pendahuluan
Sejarah filsafat (Susanto:2011;30) adalah uraian dari suatu peristiwa yang berkaitan dengan hasil pemikiran filsafat. Sejarah lahirnya dan perkembangan filsafat sama tuanya dengan sejarah kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan yang muncul pada masa peradaban kuno. Asal muasal lahirnya filsafat adalah dalam upaya mencari kebenaran, menyelidiki hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu secara sungguh-sungguh. 
Adapun tujuan mempelajari filsafat ini (Susanto:2011;31) untuk mengetahui pemikiran filsafat para ahli pikir atau filosof tentang berbagai ragam pemikiran dari dahulu hingga sekarang. Di dalam sejarah filsafat akan diketahui pemikiran-pemikiran yang cemerlang hingga hasil pemkiran tersebut dapat mengubah dunia melalui gagasan dan ide-ide yang monumental. Adapun upaya yang dilakukan adalah untuk mencapai kebenaran dalam segala bidang yaitu meliputi pikiran atau budi manusia, tingkah laku, nilai tingkah laku dan tujuan hidup baik kehidupan dunia maupun kehidupan sesudah dunia ini.
B.        Zaman Perkembangan Filsafat
 Sejarah perkembangan filsafat dapat dibagi ke dalam 4 zaman yaitu Zaman Yunani Kuno, Zaman Abad Pertengahan, Zaman Abad Modern, dan Zaman Abad Post Modern. 
1.      Zaman Yunani Kuno
Pada Zaman Yunani Kuno, ilmu ini dipandang sebagai bagian dari filsafat. Ilmu dipandang sebagai hal yang berurusan dengan kenyataan (fakta) fisik, sekarang ilmu dianggap bergumul dengan fenomena-fenomena (gejala-gejala fisik dan non fisik). Karenanya, ilmu kemudian dikategorikan ke dalam tipe-tipe deduktif dan induktif. 
Pada zaman Yunani Kuno, filsafat dan ilmu bersifat saling menjalin dan orang tidak memisahkan keduanya sebagai hal yang berbeda. Filsafat dan ilmu berusaha meneliti dan mencari unsur-unsur dasariah alam semesta. Usaha tersebut, sekarang disebut usaha keilmuan (usaha ilmiah) 
Ahli pikir pada zaman Yunani Kuno yang pertama kali muncul adalah          Thales (625-545 SM) (Susanto: 2011;33) yang berhasil mengembangkan beberapa filsafat ilmu. Karena merupakan pemikir pertama yang dalam sejarah filsafat, ia disebut the Father of Philosopy ( Bapak Filsafat ). Selain itu bangsa Yunani menggolongkan Thales sebagai salah seorang dari Seven Wise Men of Greece (Tujuh Orang Arif Yunani). Thales memperkembangkan filsafat alam (kosmologi) yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi alam semesta. Thales, dalam penyelidikan keilmuwannya, menyimpulkan bahwa penyebab utama dari alam itu adalah ” air ” sebagai akhir dari kosmis.
Sebagai ilmuwan, Thales mengembangkan fisika astronomi dan matematika dengan antara lain mengembangkan fisika, astronomi, dan matematika dengan antara lain, mengemukakan beberapa pendapat keilmuannya antara lain bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya gerhana matahari, dan membuktikan dalil-dalil geometri. Prestasi Thales dalam sejarah keilmuan, ditunjukkannya dalam hal pembuktian dalilnya bahwa kedua sudut alas dari suatu segitiga sama kaki adalah sama besarnya. Thales, melalui itu menunjukkan bahwa ia adalah ahli matematika dunia yang pertama dari Yunani. Para ahli dewasa ini, menyebut Thales sebagai Father of Deductive Reasoning ( Bapak Penalaran Deduktif )
Pythagoras (572-497 SM) adalah ilmuwan Yunani Kuno dalam bidang matematika yang mengajarkan bahwa bilangan merupakan intisari dari semua benda sert dasar pokok dari sifat-sifat benda. Dalil Pythagoras berpendapat bahwa matematika merupakan salah satu sarana atau alat bagi pemahaman filsafati.
Plato (428-348 SM) adalah filsuf besar Yunani dan ilmuwan spekulatif, yang menegaskan bahwa filsafat atau ilmu merupakan pencarian yang bersifat perekaan (spekulatif ) tentang seluruh kebenaran. Plato, dalam hal ini, memandang ilmu sebagai hal yang berhubungan dengan opini atau ajaran. Ia mengajarkan bahwa geometri merupakan ilmu rasional berdasarkan akal murni, yang berusaha membuktikan pernyataan-pernyataan (proposisi) abstrak mengenai ide – ide abstrak, misalnya segitiga sempurna, lingkaran sempurna dan sebagainya.
Aristoteles (382–322 SM) lebih memahami ilmu sebagai pengetahuan demonstrative. Ilmu dalam hal ini bersifat teoritis ( ilmu tertinggi ), praktis ( ilmu terapan ) dan produktif ( ilmu yang bermanfaat ), semuanya dalam kesatuan utuh ( tidak bersifat ilmu majemuk ). Aristoteles mempelajari berbagai ilmu, antara lain : Biologi, psikologi dan politik. Ia juga mengembangkan ilmu tentang penalaran ( logika ) yang dalam hal ini disebutkannya dengan nama Analytika, yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pada premis yang benar dan dialektika, yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pikir pada hal – hal yang bersifat tidak pasti ( hipotesis ).

 2.      Zaman Abad Pertengahan
Permulaan abad pertengahan diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sama halnya dengan filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada abad pertengahan juga dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya pemikiran filsafat abad pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalau didasarkan pada dogma agama, sehingga corak pemikiran filsafatnya bersifat teosentris.
Pada abad ke 6 Masehi sudah mulai berubah, tidak lagi terpaku pada dogma agama. Sejak masa inilah didirikannya sekolah-sekolah yang member pelajaran gramatika, dialektika, geometri, aritmatika, astronomi dan music. Keadaan yang demikian akan mendorong perkembangan pemikiran filsafat pada abad ke 13 yang ditandai dengan berdirinya universitas-universitas. Pada universitas inilah mereka mengabdikan dirinya untuk kemajuan ilmu dan agama seperti halnya yang dilakukan oleh Thomas Aquinas        ( 1225-1274 )
Selain itu di kalangan para ahli pikir Islam pada abad pertengahan ini, muncul pemikir-pemikir Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghasali, Ibn Bajjah, Ibn Tufail dan Ibn Rusyd. Periode ini berlangsung tahun 850-1200, di mana pada masa itulah kejayaan Islam berlangsung dan ilmu pengetahuan berkembang pesat sampai runtuhnya kerjaan Islam di Granada Spanyol 1492.

3.      Zaman Abad Modern
llmu mengalami perkembangan revolusioner pada abad modern. Muncul tokoh-tokoh pembaharu seperti; Galileo-Galilei, Francis Bacon, Roger Bacon, Rene Descartes, dan Ishak Newton yang memperkenalkan matematika dan metode eksperimental untuk mempelajari alam.
Menurut Galileo-Galilei (ilmuwan besar dunia dari ltali), ilmu berkembang dari filasafat alam, yang lebih dikenal sebagai ilmu alam, melalui pengukuran kecepatan cahaya sampai penimbangan obor udara. Sebagai ilmuwan matematika, ia mengajarkan sebuah ucapannya yang sangat terkenal, yaitu, “Filsafat ditulis dalam sebuah buku besar, tetapi buku itu tidak dapat dibaca dan dimengerti bila orang tidak lebih dahulu belajar memahami bahasa dan membaca huruf-huruf yang dipakai untuk menyusunnya,          yaitu matematika".
Rene Descartes, menunjukkan sebuah kecenderungan lain di dalam paham keilmuannya. Kenyataan tersebut makin menunjukkan ciri perkembangan keilmuan modern yang bersifat majemuk dan partikular (terpisah-pisah). Descartes, ilmu tidak memiliki basis lain kecuali akal budi. Metode akal budi dapat diterapkan dalam problem apa pun.
Perkembangan ilmu mencapai puncak kejayaannya di tangan lshak Newton. Menurut Newton, inti keilmuan adalah pada pencarian pola data matematis, dan karena itu, ia berusaha membongkar rahasia alam dengan menggunakan matematika. Pandangan keilmuan abad modern yang berciri empiris-eksperimental dengan pendekatan induktifnya yang ketat, telah dikembangkan secara lebih progresif oleh Ishak Newton dalam sebuah perspektif keilmuan yang berciri positivistik.
Auguste Comte mengembangkan metode keilmuannya yang khas yaitu "Positivisme" dengan memadukan “Rasionalisme" ala Descartes dengan “Empirisme" Francis Bacon. Selanjutnya Comte mengkategorikan ilmu dalam enam kategori kegunaan yang sifatnya praktis, (Adhyel:2013) yaitu :
a.    Ilmu pasti (matematika) sebagai dasar bagi ilmu pengetahuan. Comte dengan begitu yakin menyatakan bahwa hanya ilmu pastilah yang merupakan satu-satunya ilmu yang mempunyai kedudukan obyektif.
b.   Ilmu perbintangan (astronomi) yang berfungsi menyusun hukum-hukum ilmu pasti tersebut di atas dalam hubungan dengan gejala benda-benda langit.
c.    Ilmu alam (fisika) yang menunjukkan hubungan-hubungan yang mengatur sifat umum benda yang dikaitkan dengan masa. Praktis ilmu alam atau fisika ini mempunyai sifat keteramalan realitas obyeknya bersifat tetap dan tidak berubah.
d.   Ilmu kimia ( chemistry ) yang berfungsi untuk membuktikan adanya keterkaitan yang luas diantara ilmu-ilmu seperti dalam ilmu hayat (biologi) dan bahkan dengan sosiologi.
e.    Ilmu hayat ( fisiologi atau biologi). Jelasnya pada tingkat ini ilmu telah berhadapan secara  langsung dengan gejala-gejala kehidupan sebagai unsur yang lebih kompleks.
f.    Ilmu fisika social ( sosiologi ). Ilmu ini berfungsi untuk menghadapkan ilmu pada hakikat kehidupan yang lebih kompleks, lebih konkret, dan lebih khusus dalam ikatan dengan suatu kelompok manusia.
Kultur keilmuan positif yang dikembangkan Auguste Comte mempunyai peranan yang sangat besar dalam perkembangan keilmuan modern. Nampaknya seolah-olah terdapat semacam jaminan bahwa “ hanya ilmu positif (sain)lah yang pasti dan benar satu-satunya”. Positivisme awal yang menekakan pada segi-segi rasional-ilmiah, baik pada tataran epistemologi maupun ontologi.
Pandangan positivisme Comte yang begitu kuat terhadap masalah-masalah social, membentuk pandangan epistemology yang bercorak pragmatis. Akibatya, epistemology positivism ini hampir tidak mampu lagi menjangkau segi-segi historisitas manusia. Comte lupa bahwa segi-segi sosio historis manusia inilah yang mengantarkannya untuk melahirkan pandangan, gagasan serta cara berfikir dan aspirasi-aspirasi baru yang dinamis. Semua itu bersifat terbuka bagi kemungkinan- kemungkinan baru di dalam pengetahuan dan kehidupan yang terus bergerak maju dengan berbagai kemungkinan yang serba baru dan berubah –ubah.
Krisis sosio-historis atau krisis dialektika dalam epistemology yang memuncak pada zaman “Positivisme” ini justru muncul Von Feuerbach. Feuerbach (19804-1872) sangat anti terhadap Teologi. Analisanya secara langsung menyentuh pada hakikat Tuhan. Ia menegaskan bahwa sesungguhnya segala konsepsi mengenai Tuhan tidak lain adalah produk imajinasi manusia sendiri. Ia menganjurkan agar kepercayaan kepada Tuhan ditinggalkan saja. Akhirnya Von Feuerbach menandai gejala perubahan mendasar dari alam lama ke alam modern sekuler tidak hanya terbatas pada sektor agama, akan tetapi sampai kepada Tuhan itu sendiri. Kenyataan ini semakin terlihat jelas dengan adanya kemanunggalan antara Sekulerisme dan Ateisme. 
Positivisme Kontemporer ternyata lebih tragis dalam mengembangkan dirinya. Pada paham positivisme ini bukan saja menampilkan dirinya sebagai sebuah ajaran, tetapi lebih pada sebuah sikap ilmiah dan sikap hidup. Aliran Positivisme Kontemporer ini menempatkan dirinya pada puncak pengetahuan dari kepentingan manusiawi dan awal pencapaian cita-cita untuk memperoleh pengetahuan demi pengetahuan. Sejarah filsafat mencatat bahwa, “Positivisme kontemporer” ini lebih ditonjolkan dalam pemikiran dikenal dengan “Positivisme Logis” atau “Empirisme Logis”, atau juga “Neo Positivisme”.
“Positivisme Logis” menganggap ilmu atau pengetahuan mengenai fakta obyektif sebagai ilmu atau pengetahuan yang sah. Melalui ini, aliran “Positivisme” ini berusaha mengakhiri riwayat ontology atau metafisika. Meskipun demikian, ternyata “Positivisme” tidak sanggup melepaskan diri secara sungguh dari ontologi malah telah membentuk suatu ontologi baru yaitu teori murni yang bebas dari kepentingan manusiawi.
Pengaruh Positivisme dalam keilmuan modern secara luas dan mendasar membentuk berbagai aliran pemikiran dan keilmuan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kultur modern. “Positivisme” telah membawa pengaruh teknologi yang terasa penting dalam epistemologi. Teknologi ternyata sangat mewarnai problem keilmuan moderndan secara khusus perkembangan sistem pengetahuan modern. Umumnya, perkembangan ilmu dan teknologi berjalan secara terpisah, namun setelah perkembangan Positivisme maka terjadi pembauran di antara keduanya. Tuntutan pembauran ini didasarkan pada kebutuhan akan peningkatan alat ukur untuk mencapai kepastian yang makin sempurna dalam rangka pengetahuan ilmiah.
Secara implisit, perkembangan teknologi selalu mempunyai pendasaran epistemologis yang sifatnya implisit di dalamnya. Selanjutnya, setelah perkembangan modern maka pertumbuhan teknologi makin mengungkapkan aspek epitemologis secara lebih eksplisit. Melalui ini, orang dapat berbicara mengenai teknologi sebagai bagian dari pertumbuhan epistemology. perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa teknologi makin terkait dengan proses industriliasasi tetapi juga makin terpadu dengan perkembangan ilmu. Eksperimen tidak saja di bidang ilmu-ilmu alam, tetapi juga di bidang biologi dan bahkan psikologi. Akibatnya, terjadilah perpaduan antara perkembangan ilmu dengan teknologi. Profesi keilmuan, akhirnya, banyak terkait dengan perkembangan teknologi.
Martin Heidegger mengkritik problem teknologi dalam pengetahuan dengan menunjukkan bahwa teknik dapat menempatkan metafisika dan sekaligus menunjukkan sebuah ontologinya yang khas, yaitu benda atau obyek. Jelasnya, bila dalam Abad Pertengahan manusia dipandang dan diakui derajatnya sebagai “makhluk” maka sebaliknya dalam teknologi, manusia dipandang sebagai benda atau materi yang siap ditangani, dikuasai, dimiliki, dan dimanipulasi.
Martin Buber (Adhyel:2013) menunjukkan bahwa dalam situasi demikian, hubungan antar manusia bersifat hubungan “Aku-Engkau” dirubah menjadi “Aku-Itu” yang ditandai dengan nafsu eksploitasi, manipulasi, dan rekayasa atas diri sesama manusia. Prinsipnya, dalam teknologi, manusia terseret ke dalam dunia mekanisme yang kaku dan ketat. Akibatnya, manusia terasa tidak mampu lagi untuk memandang hal-hal lain yang merupakan misteri-misteri kehidupan yang bersifat hakiki. Harus diakui, manusia tetap membutuhkan teknologi sebagai sarana (bukan tujuan) pengembangan hidup, namun, tenologi itu sendiri harus terbuka pada pembaharuan dan pemurnian secara terus-menerusatas prinsip kemanusiaan. Melalui itu, teknologi dapat berperan dalam tugas kemanusiaan yang sifatnya utuh.
Salah satu ciri perkembangan keilmuan modern ( Adhyel:2013 ) pada abad XX yaitu lahirnya ilmu-ilmu baru yang tampaknya bebas, seperti; logika formal, Liguistik (ilmu bahasa), teori tanda, ilmu perilaku (Behaviour science), ilmu anatomi sosial (Sosial Anatomy Science), Antropologi ragawi, dan Ethology (ilmu tentang pola perilaku organisme). Ciri empiris dalam dunia keilmuan modern cenderung menganggap, bahwa ilmu-ilmu social dan psikologi, untuk diakui keabsahannya secara ilmiah maka harus pula menggunakan metode-metode empiris eksperiental, yang isinya terbatas pada data-data yang dapat dibuktikan dengan fakta pengamatan serta generalisasi dan aplikasi.

4.      Zaman Abad Post Modern (Pembaharuan Atas Klaim-Klaim Keilmuan Modern)
Jurgen Habermas, sebagai filsuf dan pemikir abad Post modern. Habermas ingin membaharui pandangan keilmuan modern dalam sebuah pendekatan kritis. Menurutnya, keilmuan modern telah terjebak dan kebekuan dan kemandekan klaim-klaim “Positivisme” sempit, yang cenderung membatasi ilmu pada gejala alam, tanpa berusaha melihat dimensi sosiologi keilmuan itu sendiri.
Menurut Habermas, sejarah besar ilmu sosial menunjukkan adanya tiga momen pemikiran yang sekaligus menggambarkan tiga periode kritis di dalam sejarah ilmu sosial itu sendiri. Ketiga momen kritis dalam sejarah ilmu sosial (Adhyel:2013) itu digambarkan dalam skema pemikiran berikut :
a.    Ilmu Sosial Positif. Momen pemikiran pertama inilah yang meletakkan dasar-dasar “Ideologi Positivisme” baik pada tataran substansi maupun cara kerja atau metodenya pada alam pengetahuan ilmu-ilmu sosial. Ilmu Sosial Positif menyeret manusia atau masyarakat positif untuk jatuh ke dalam bahaya “Materialisme” dan “Hedonisme”, tanpa bersikap kritis terhadapnya. Manusia harus memutuskan hubungannya dengan masa lalunya, dinamika kejiwaannya, dan tuntutan-tuntutan sosialnya yang luas dan komplementer. Ambisi ilmu sosial positivis telah mengubah aspirasi dan otonomi, serta cinta kemanusiaan menjadi susah anarkhisme dan perbudakan atau kediktatoran yang menindas. Hukum evolusi yang kemudian diperkuat dengan semboyan struggle for life dan survival of the fittest telah memaksakan orang untuk berjuang habis-habisan demi hidup dan demi kekuasaan, tanpa cinta kasih atau pengampunan.
b.   Ilmu Hermeneutika Sosial, dilakukandengan menunjukkan sebuah pendekatan baru yang bersifat kritis atas pemikiran “Positivisme” sosial dan kehidupan sosial itu sendiri. Caranya adalah, dengan metode hermeneutik atau penafsiran atas ide dan tindakan-tindakan sosial. Tindakan-tindakan sosial atau ide tindakan sosial itulah yang menjadi dasar untuk mengkonstruksikan teori sosialnya. Cara itu dilakukan dengan mempelajari perilaku sosial yang bermakna untuk menunjukkan segi-segi subyektif kegiatan antar pribadi dalam kompleksitas hubungan sosial yang menyusun sebuah masyarakat.
c.    Sosial Kritis. Arus pemikiran ini lebih merupakan sebuah kritik pembaharuan atas isi pemikiran dan suasana intelektual teori sosial sebelumnya yang dipandangnya sebagai anti demokratik dan humanis. Alasannya, teori-teori tersebut telah memanipulasi masyarakat dengan penelitiannya yang sengaja mengambil dan memanipulasi suara terbanyak untuk membenarkan maksud-maksud politiknya dalam rangka mendiskriminasikan kelompok masyarakat minoritas.
Jelasnya Habermas telah meletakkan sebuah dasar baru bagi dunia keilmuan yang disebut sebagai sosiologi kritis. Habermas menunjukkan adanya sintesis dialektis dalam ilmu yang tidak hanya diperoleh melalui tindakan instrumental karena di dalam kerjanya, manusia membawa serta tradisi dan penafsiran-penafsiran simbolis atas dunianya.

C.        Kesimpulan
Sejarah perkembangan filsafat dapat dikategorikan ke dalam 4 zaman yaitu Zaman Yunani Kuno, Zaman Abad Pertengahan, Zaman Abad Modern, dan Zaman Abad Post Modern. 

  1. Perkembangan sejarah ilmu pada abad Yunani Kuno telah berkembang dalam empat bidang keilmuan, yaitu; Filsafat (kosmologi), ilmu biologi, matematika, dan logika dengan ciri perkembangannya masing-masing.
  2. Perkebangan sejarah ilmu pada abad pertengahan mengedepankan masalah kepercayaan dan ketuhanan. Artinya pemikiran filsafat abad pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalau didasarkan pada dogma agama, sehingga corak pemikiran filsafatnya bersifat teosentris.
  3. Pada zaman abad modern mendasarkan pada Positivisme yang digagas oleh Auguste Comte dimana pengaruh Positivisme dalam keilmuan modern membentuk berbagai aliran pemikiran dan keilmuan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kultur modern.
  4. Sedangkan pada perkembangan filsafat ilmu di zaman abad post modern meletakkan sebuah dasar baru bagi dunia keilmuan yang disebut sebagai sosiologi kritis.


D.       Daftar Pustaka :
Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu. Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta. Bumi Aksara

Senin, 07 Januari 2013

Tugas dan Fungsi Guru


<p>Your browser does not support iframes.</p>
Tugas Guru - Sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya, guru khususnya ia dibekali dengan berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula dengan seperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar memersosialisasikan sikap keguruan yang diperlukannya. Seorang yang berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap danm keterampilan keguruan yang akan ditransformasikan kepada anak didik atau siswanya.

Guru yang memahami fungsi dan tugasnya tidak hanya sebatas dinding sekolah saja, tetapi juga sebagai penghubung sekolah dengan masyarakat yang juga memiliki beberapa tugas menurut Rostiyah (dalam Djamarah, 2000 : 36) mengemukakan bahwa fungsi dan tugas guru profesional adalah :

  1. Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan pengalaman-pengalaman
  2. Membentuk kepribadian anak yang harmonis sesuai cita-cita dan dasar negara kita Pancasila
  3. Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. 2 Tahun 1983
  4. Sebagai prantara dalam belajar
  5. Guru adalah sebagai pembimbing untuk membawa anak didik ke arah kedewasaan. Pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak menurut kehendak hatinya
  6. Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat
  7. Sebagai penegak disiplin. Guru menjadi contoh dalam segala hal, tata tertib dapat berjalan apabila guru menjalaninya terlebih dahulu
  8. Sebagai adminstrator dan manajerGuru sebagai perencana kurikulum
  9. Guru sebagai pemimpin
  10. Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak
Seorang guru baru dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai pendidik dan juga berfungsi sebagai pembimbing. Dalam hal ini pembimbing yang memiliki sarana dan serangkaian usaha dalam memajukan pendidikan. Seorang guru menjadi pendidik yang sekaligus sebagai seorang pembimbing. Contohnya guru sebagai pendidik dan pengajar sering kali akan melakukan pekerjaan bimbingan, seperti bimbingan belajar tentang keterampilan dan sebagainya dan untuk lebih jelasnya proses pendidikan kegiatan mendidik, mengajar dan membimbing sebagai yang taka dapat dipisahkan.

Membimbing dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan menuntun anak didik dalam perkembanganya dengan jelas dmemberikan langkah dan arah yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Sebagai pendidik guru harus berlaku membimbing dalam arti menuntun sesuai dengan kaidah yang baik dan mengarahkan perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan, termasuk dalam hal ini yang terpenting ikut memecahkan persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak didik. Dengan demikian diharapkan menciptakan perkembangan yang lebih baik pada diri siswa, baik perkembangan fisik maupun mental.

Dari uraian di atas secara rinci peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat disebutkan sebagai berikut :

1.    Fasilitator
Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar mengajar.

2.    Motivator
Sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar

3.    Informator
Sebagai informator guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.

4.    Pembimbing
Peran guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas adalah sebagai pembimbing

5.    Korektor
Sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan buruk

6.    Inspirator
Sebagai inspirator guru harus dapat membedakan ilham yang baik bagi kemajuan anak didik

7.    Organisator
Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan oleh guru dalam bidang ini memiliki kegiatan pengelolaan kegiataan akademik dan lain sebagainya.

8.    Inisator
Sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetur ide-ide kemajuan dan pendidikan dalam pengajaran

9.    Demonstrator
Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran anak didik pahami

10.    Pengelolaan kelas
Guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik karena kelas adalah tempat terhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelaaran dari guru.

11.    Mediator
Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya baik media non material maupun material.

12.    Supervisor
Guru hendaknya dapat membantu memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.

13.    Evaluator
Guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur dengan memerikan penilaian yang menyentuh aspek intrinsik dan ekstrinsik.
http://www.sarjanaku.com/2011/03/tugas-dan-fungsi-guru.html

Rabu, 03 Oktober 2012

DAFTAR GURU BELUM BERSERTIFIKAT

LIHAT DI : http://sergur.kemdiknas.go.id/sg13/
PILIH KRITERIA, NAMA PROPINSI DAN KABUPATEN

NoNUPTKNamaTempat TugasPend.UsiaMKGol.
10418453749651210063SITI PASIANSDN 2 MOJOREMBUNSMA41_0117_05II/B
10423255751652200003ABDUL HAFIDHSMK (SMEA) NU KEDUNGTUBANSD41_0109_05NON PNS
10439537749651200043SHODIQSD NEGERI JIPANGSMA41_0006_08II/C
10442542749651300133DWI YANTI RATNASARISDN 2 TEMPELS141_0006_08II/C
10459544749650300033SITI MUFRODAHSMA NEGERI 1 JEPONS241_0014_10III/D
10463559749651300073ASYH SUPRAPTISD NEGERI 1 TEMULUSD241_0018_08II/B
10476559749651200043WARISSDN 3 KETRINGANSMA41_0006_08II/C
10488561749651300063MUDJI HARIYANTISD NEGERI 4 BLEBOHSMA41_0006_08II/C
10492450750652300052SRI NUR HARYANTITK MUSLIMAT 1 JAPAHS140_1118_05NON PNS
10507451750651200012ABDUL KHOLIQSD NEGERI 1 SUMBERAGUNGTK40_1108_11III/C
10512534750652300152SUYATINSDN 2 SEMANGGISMA40_1009_06II/C
10529645750651300022SULISMIATITK Pertiwi BedinginD240_09113_0NON PNS
10536646750652300062UMI URIPAHSMAN 2 CEPUS140_0914_10III/D
10547662750651200002ANI PURWANTOSMP NEGERI 2 JIKEND340_0918_00II/D
10552735750655300002RINI YUNTARITK HIMMATUL MUALLIMINSMA40_0812_05NON PNS
10562736750651300052LILY LIDYA LONDAHTK Bintang TimurS240_08
NON PNS
10572750750651210042INDARTISDN BRADAGS140_0823_11III/A
10580938750651300052SRI LESTARISDN 2 BAKAHD240_0606_11II/B
10595957750651300022RAHAYUTK ABA 2 CEPUSMA40_0618_11III/B
10605033750652200083SURYONOSD NEGERI 1 MENDENREJOSMA40_0509_06II/B


HALAMAN  LAIN
NoNUPTKNamaTempat TugasPend.UsiaMKGol.
13813359760661300053INDARTISMP NEGERI 1 JAPAHS130_0206_08III/B
13826363760661300053SURATISD NEGERI GEMBOLS130_0203_11II/B
13830442760663300053SUYANTISD NEGERI 4 BANGKLEYANS130_0102_11III/A
13841447760661300033LESTARI KURNIASIHSD NEGERI 2 SINGGETS130_0103_09II/B
13854456760663300023PUTIAHTK DHARMA WANITA KALANGREJOD230_0109_11NON PNS
13860456760662210113SITI MUFARIDUN AINISMK MUJAHIDIN SAMBONGD330_0102_06NON PNS
13871560760659110003NUR SAPIKSMK (STM) AL BALAD JATIS130_0005_05NON PNS
13886449761663110022HERMAN SUSILOSMK (SMEA) MUH KUNDURANS129_1104_05NON PNS
13891454761666210002IKAWATI RASHINTA DEWISMK (STM) AL BALAD JATIS129_1106_00NON PNS
13901456761662300102ANIEF ALFIANISMK (STM) NEGERI 1 BLORAS129_1107_05III/A
13919533761662300042SITI SULARSIHSDN 1 KETILENGS129_1003_07II/B
13925544761662210162FERI KUSMINARITK PERTIWI BLUMBANGREJOD229_1008_05
13932555761663200032BISRI KUSERITK PERTIWI SUMBEREJOD229_1009_10NON PNS
13947555761662110052ARIE SAPTONI PUTROSD NEGERI JIPANGS129_1002_11III/A
13956643761662210142ERICKA CHRIS SYANTISDN 1 CEPUS129_0906_05II/B
13965648761663210092LILIK FANTI NASLIKAHSD NEGERI 1 SRIGADINGS129_0902_11III/A
13973652761662200032PARJOSMP NEGERI 2 JIKENS129_0906_08III/C
13982659761663300092YUNITA MARTANTITK PGRI DOPLANGS129_09
NON PNS
13999662761662110052IKWAN INSANJAYASMA NEGERI 1 TUNJUNGANS129_0903_11III/A
14002737761663200072UBRO SUCIPTOSD NEGERI 2 TLOGOTUWUNGS129_0803_09II/B

Informasi Calon Peserta Sertifikasi Guru

  1. Cek dalam daftar calon peserta menggunakan tombol pencarian dengan memasukkan NUPTK
  2. Jika nama Anda termasuk dalam daftar calon peserta segera hubungi dinas pendidikan setempat untuk mendapatkan Format A0
  3. Mengoreksi dan memperbaiki data pada Format A0 (data ini tidak boleh salah karena kemudian akan digunakan sebagai acuan untuk sertifikat pendidik) Data yang dikoreksi adalah nama lengkap harus sesuai dengan dokumen lainnya (ijasah atau SK PNS); golongan (bagi PNS); tempat dan tanggal lahir; ijasah, tahun lulus, dan nama perguruan tinggi; nama sekolah tempat mengajar. Dokumen yang dijadikan acuan verifikasi nama dan tempat tanggal lahir peserta bagi guru PNS adalah SK PNS, sedangkan bagi guru bukan PNS adalah ijasah terakhir dari perguruan tinggi.
  4. Mengisi pola sertifikasi yang dipilih.
    • Pola portofolio bagi guru yang memiliki dan memenuhi skor minimal portofolio (kuota maksimal 1%).
    • Pola PLPG bagi guru yang tidak memenuhi skor minimal portofolio.
    • Pola pemberian sertifikat secara langsung (PSPL) bagi guru yang telah memenuhi syarat PSPL.
  5. Menetapkan bidang studi yang akan disertifikasi Bidang studi tersebut harus ditetapkan sendiri oleh guru yang bersangkutan sesuai dengan kompetensi yang dikuasainya. Harus disadari oleh guru bahwa bidang studi ini akan terus melekat dalam tugas mengajar yang akan dilaksanakan oleh guru selama guru tersebut mengajar. Dengan kata lain, guru harus konsisten dengan pilihannya secara profesional karena guru harus mengajarkan bidang studi atau mata pelajaran tersebut selama bertugas sebagai guru.
    Penetapan bidang studi sertifikasi mengikuti ketentuan sebagai berikut:
    • sesuai dengan program studi S-1 (linier),
    • apabila tidak sesuai (tidak linier) dengan program studi S-1, dapat menggunakan program studi D-III,
    • apabila tidak sesuai (tidak linier) dengan program studi S-1 dan program studi D-III, guru dapat menetapkan bidang studi yang serumpun dengan program studi S-1 dan D-III,
    • apabila tidak sesuai (tidak linier) dengan program studi S-1 dan program studi D-III, guru dapat menetapkan bidang studi sertifikasi sesuai dengan mata pelajaran, rumpun mata pelajaran, atau satuan pendidikan yang diampunya, dan harus memiliki masa kerja minimal sudah 5 tahun berturut-turut mengajar mata pelajaran tersebut.
  6. Mengumpulkan berkas/dokumen/portofolio ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
  7. Memantau proses penetapan peserta melalui website www.sergur.pusbangprodik.org
  8. Menerima Format A1 berisi nomor peserta sebagai bukti terdaftar sebagai peserta sertifikasi guru
  9. Mencari informasi tentang pelaksanaan uji kompetensi awal (bagi peserta PLPG) ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota masing-masing